Menjadi Guru Kreatif itu Ikhlas :)

 TERNYATA TIDAK SULIT MENJADI GURU KREATIF Belajar dari Ibu Siti Waliyati, guru SDN 8 Langkahan Aceh Utara

Seorang sahabat telah berbagi pengalaman dengan menceritakan sebuah hal yang sangat berguna bagi khususnya kita komunitas guru. Inilah kisahnya :

Sebut saja namanya Siti Waliyati, anak yang terlahir dan mengabdikan dirinya di pelososk desa. Sekarang dia mengajar di Sekolah Dasar Negeri 8 Langkahan (Aceh Utara). Sahabat saya Kaget bukan main, Sekolah Dasar Negeri 8 Langkahan terletak jauh sekali dari pusat kota. Perlu waktu sekitar 1,5 – 2 jam dari kota Lhokseumawe agar bisa sampai di Sekolah dasar Negeri 8 langkahan. Jalanan berliku dan berbatu, berdebu di musim kemarau dan berlumpur di waktu hujan. Mobil tumpangan sahabat saya sempat terjebak lumpur, rombongan babi hutan sempat pula menghadang, bahkan menurut cerita sahabat saya hamper nyasar ke hutan karena salah jalan. Namun bagi Siti Waliyati hal semacam ini sudah menjadi bagian dari kesehariannya(!).

 

Gaji Siti sangat kecil kalau kurang pantas disebut alakadarnya. Dia tidak pernah risau dengan statusnya sebagai guru honorer. Siti tidak pernah berpikir bisa menjadi guru hebat nan kreatif, karena segala akses pengembangan diri sungguh sangat terbatas. Keikutsertaan menghadiri training guru bisa dihitung dengan jari tangan, buku referensi jarang ditemukan, apalagi internet. Supervisi dari kepala sekolah tidak pernah dijalani. Tapi disinilah kehebatan Siti sedang diuji. Mungkinkah Siti bisa menjadi guru yang hebat dengan segala keterbatasan yang ada?

 

Jawabannya ternyata mencengangkan!

Lomba Inovasi Media Pembelajaran Se-Kecamatan Langkahan menjadi saksi bisu atas perjuangan Siti menjadi guru hebat nan kreatif. Lomba itu memberi tantangan khusus kepada peserta untuk membuat inovasi media pembelajaran yang kreatif, orisinil, dan bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

 

Ada 17 peserta yang lolos ke babak final. Lanjut kisah sahabat saya, Siti menjadi peserta yang mendapat giliran tampil kedua untuk menyajikan hasil karyanya. Bungkus rokok, potongan kayu-kayu kecil, potongan karet berbentuk lingkaran dari sandal jepit bekas, sedotan, dan sebuah balon, berhasil disulap Siti menjadi mobil-mobilan. Apa yang hendak ditunjukkan Siti kepada dewan juri?

 

Dengan gaya khasnya, dia menjelskan apa dan mengapa tujuan media itu dibuat. Semua dewan juri menganggukkan kepala tanda memahami apa yang disampaikan Siti. “Dengan alat ini, saya ingin membantu siswa  memahami konsep gaya, urai Siti meyakinkan.

Situasi menjadi sedikit tegang ketika  Siti harus mendemonstrasikan alat itu. Sesaat Siti menghela nafas, lalu meniup balon dengan sedotan, dan diletakkan balon itu di bagian rangka mobil-mobilan, lantas apa yang terjadi?

 

Sontak suara tepuk tangan riuh bergema di seluruh sudut ruangan, mobil-mobilan Siti berhasil meluncur dengan bantuan udara yang keluar dari balon. Fantastis!

Beberapa dewan juri sempat pula meminta Siti melakukan hal itu berulang-ulang. “Wualah, orang tua saja senang bukan main belajar dengan alat ini, apalagi anak-anak”, pikiran itu sempat terlintas di benak sahabat saya.

 

“Ini baru awal, saya akan berjuang lebih keras lagi untuk menjadi guru yang baik”, Siti sempat berujar di sela-sela acara pengumuman pemenang lomba. Dan tekad itu dibuktikannya pula. Secara otodidak, Siti terus mempelajari banyak hal untuk meningkatkan kualitas megajarnya. Sampai akhirnya, Siti terpilih mewakili Sekolah Dasar Negeri 8 Langkahan untuk mejadi pembicara di Event Hari Guru nasional 2010 silam di Jakarta.(www.republika.co.id)

Kisah sederhana tentang pengabdian guru di daerah terpencil yang mudah kita akses melalui internet, seharusnya tidak sekedar hanya sebagai cerita selingan yang menawan hati dan menumbuhkan sikap sesaat keprihatinan. Namun seharusnya mampu menjadi pembanding, introspeksi diri khususnya dalam hal berprestasi dan bertumbuh-kembangnya inovasi bagi rekan guru yang lain, khususnya bagi guru yang bertugas di tempat yang akses untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tersedia. Sekaligus menjadi pembakar semangat untuk berjuang memajukan pendidikan di tanah air.

Siti Waliyati, guru honorer pada Sekolah Dasar Negeri 8 Langkahan Aceh Utara telah menorehkan pengalaman yang sangat berharga dalam rangka memajukan dunia pendidikan di tanah air. Pembelajaran yang dapat kita petik dari pengalamannya mudah-mudahan membawa perubahan kearah yang positif untuk ke depannya.

1. Menjadi guru kreatif itu bermula dari komitmen diri.

Menjadi guru yang kreatif itu sulit. Apalagi bila diperkuat dengan alasan yang gajinya pas-pasan, bertugas di daerah terpencil, media belajar tidak lengkap, maka semakin yakinlah bahwa kreativitas itu memang sulit dilakukan. Mungkin hanya guru-guru yang istimewa saja yang mampu berkreativitas.

Besarnya gaji, senioritas, dan status guru tidak berbanding lurus dengan kreativitas. Menjadi kreatif itu seperti diungkapkan oleh Siti Waliyati dalam mendemonstrasikan media pembelajaran yang dibuatnya “Dengan alat ini, saya ingin membantu siswa  memahami konsep gaya…”. Tersirat dalam dialog sederhana itu niatan tulus diri sebagai pendidik untuk berusaha mengajari, membimbing, melatih siswa memahami materi pembelajaran.

2. Menjadi guru kreatif itu kaya inovasi

Kreatif adalah suatu kemampuan yang di miliki seseorang (atau kelompok orang) yang memungkinkan mereka menemukan pendekatan-pendekatan atau terobosan baru dalam menghadapi situasi atau masalah tertentu yang biasanya tercermin dalam pemecahan masalah dengan cara yang baru atau unik yang berbeda dan lebih baik dari sebelumnya (Agus S. Madjadikara, 2005). Jadi guru kreatif adalah guru yang mampu menciptakan sesuatu yang unik dan beda untuk kemajuan diri dan peserta didiknya. Inovasi itu identik dengan penemuan ide-ide baru. Ide itu tidak akan datang dengan sendirinya bila cara mengajar guru hanya monoton. Jadi para guru harus terus belajar dan menggali pengetahuan agar senantiasa dapat memunculkan ide-ide baru yang dapat menunjang proses pembelajaran berjalan sesuai harapan. Siti Waliyati mencontohkan dalam memunculkan ide-ide brilian dengan caranya yang unik memanfaatkan barang-barang di lingkungan sekitarnya.

3. Menjadi guru kreatif itu pekerja keras

Siti Waliyati pernah menyatakan bahwa inovasinya itu ‘baru awal’, ia berujar akan bekerja lebih keras lagi untuk menjadi guru yang baik. Bukan main semangat untuk kerja kerasnya!

Peserta didik jaman sekarang seolah merindukan guru yang lain dari yang selama ini mereka jumpai, yang mengajar dengan suasana lain, yang bisa membangkitkan semangat belajarnya dengan jalan yang tidak monoton – itu hal yang harus kita tindak lanjuti, artinya kita harus bekerja keras untuk mengikuti kemauan peserta didik bukan memaksa mereka belajar dengan cara kita. Jaman telah berkembang, kita harus menyesuaikan hal ini dan menanggalkan cara konvensional untuk mengajar. Dan hal itu tidak mudah. Kreativitas, menuntut proses belajar tiada henti dan tidak pernah merasa berpuas diri dalam hal bekerja dan berkarya.

4. Menjadi guru kreatif itu memiliki ke-khas-an

Guru yang kreatif itu memiliki penampilan yang berbeda dengan guru lain, hal ini jelas karena guru yang kreatif ini memiliki ke-khas-an tersendiri yang tidak dimiliki oleh guru lain. Guru kreatif memiliki pemikiran untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran, dimana tidak pernah terpikirkan oleh orang lain.

Dan biasanya guru kreatif itu dekat dengan siswa, fleksibel, menyenangkan, ringan tangan, disiplin, berprinsip.

Siti Waliyati menunjukkan ke-khas-annya di depan dewan juri dalam Lomba Inovasi Media pembelajaran se-Kecamatan Langkahan. Kepercayaan dirinya yang mantap ditunjukkan di tengah peserta lomba itu.

Siti benar-benar berhasil menyihir dewan juri dengan kreativitasnya yang tiada tara. Apalagi setelah melihat penampilan peserta lainnya, mereka hampir tidak mampu menunjukkan aspek orisinalitas produk inovasi dan kemudahan bahan yang akan dibuat media pembelajaran tersebut. Yang ada, mereka hanya membawa contoh media pembelajaran yang sudah jadi dan bisa didapatkan di pasaran, seperti  globe, gambar-gambar hewan dan tumbuhan, dan media sejenis lainnya.
Untuk dua hal ini, orisinalitas gagasan dan kreativitas meracik bahan baku pembuatan media, Siti berhasil mengungguli peserta lainnya yang relatif sudah memiliki pengalaman mengajar lebih lama dari Siti. Belum lagi kalau mau dibandingkan dari aspek besar gaji yang diterima, frekuensi keikutsertaan mengikuti training guru, dan keterasingan dari akses pengembangan diri lainnya, Siti kalah telak dari kontestan lainnya yang sebagian besar sudah menjadi guru PNS.

5. Menjadi guru kreatif itu ikhlas

Kreatifitas itu sebuah proses belajar yang panjang dan tiada henti, tidak pernah merasa berpuas diri dalam berkarya dan bekerja, tidak pernah memperhitungkan dan membandingkan apa yang telah diperbuat dan didapat. Siti Waliyati sebuah potret menarik perjuangan ikhlas seorang guru yang kreatif. Gaji yang minim, sulitnya akses pengembangan diri, jarangnya kesempatan mengikuti training guru, statusnya yang masih guru honorer, bukan alasan bagi Siti untuk tidak bisa menjadi guru kreatif.

Kreatifitas, semua orang dapat memilikinya. Tidak ada yang sulit untuk menjadi seorang guru yang kreatif asalkan ada komitmen dari dalam diri untuk bekerja keras, untuk belajar dan senantiasa memperbaiki diri, serta tidak lekas berpuas diri dalam berkarya dan bekerja — dengan jalan begitu akan banyak hadir ‘Siti Waliyati-Siti Waliyati’ di tiap sekolah.

About fafa

Mahasiswa Prodi Pendidikan Sains 2011 A FMIPA UNESA

Posted on May 23, 2013, in PEMBELAJARAN. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: